Tuesday, December 12, 2006

Menjelang Kepulanganku

Dua bulan lagi aku genap dua tahun bekerja di rumah majikanku. Sisa-sia hari yang tinggal enampuluh hari untuk meninggalkan negeri Singa ini ku habiskan dengan riang hati.

Hari-hari belakangan ini hatiku berbunga-bunga karena sebantar lagi aku akan berkumpul dengan ketiga anakku dan suamiku kembali, yeah......! merekalah semangat
hidupku, merakalah harapan hidupku.

Gaji dolar bulananku tiap bulan yang kukirim melalui tangan suamiku adalah digunakan untuk mencukupi kebutuhan ketiga buah hatiku. Dan untuk kebutuhanku sendiri disini aku terpaksa hemat dan puasa dari segala keinginan yang aku inginkan yang beratas nama dengan memakai dolar - semua ini kulakukan demi orang-orang yang tersayang yang kutinggalkan di kampung halaman.

Saat itu panas matahari menyengat kulit kuning langsatku yang mulai tumbuh kedut, dalam cuaca begini aku meneruskan saja kerjaku yaitu memotong daun-daun pohon hias dihalaman depan rumah banglo majikanku, padahal kalau sampai nyonyaku tahu, aku pasti kena marah karena tidak seharusnya pekerjaan ini kulakukan disaat siang bolong yang panas begini. Pekarjaan ini kulakukan karena aku merasa bahagia yang sangat luar
biasa sampai-sampai aku lupa akan panas terik. Sambil memotong daun-daun pohon hias mulutku asyik menyanyi-nyanyi sendiri.

" Postman, Postman, postman...!"
Pekikan suara yang agak keras itu seketika menghentikan nyanyianku dan akupun segera berlari kearah suara itu. Tanpa banyak bicara aku segera melakukan permintaan
seorang laki-laki yang mengantarkan selembar amplop warna putih untukku yaitu menenadatangani selembar kertas tanda bukti surat yang dikirim telah kuterima.

Lalu.... "Thank you!" aku mengucap kata-kata yang artinya terima kasih itu.
Tup-tup-tup.... jantungku mau meletup ketika surat yang habis kubaca isinya adalah surat pemberitahuan dari suamiku bahwa dia telah menikah lagi satu minggu
yang lalu dengan seorang janda sekampungku.

Dan seketika itu juga kujatuhkan sekujur tubuh lemasku diatas rumput hijau dibawah pijarnya terik mentari. Lalu... dalam fikiranku, aku memutar kata-kata yang
pernah dilontarkan oleh kedua anak perempuanku ditelpon setahun yang lalu dan tidak kugubris sama sekali itu, bahwa selama ini hasil keringatku telah dihabiskan oleh bapaknya untuk digunakan berfoya-foya sendiri dan bukannya seperti sangkaanku yaitu
digunakan untuk membahagiakan anak-anakku.

Akhirnya aku pasrah dengan nasib dan bertekad untuk menyambung kontrak kerjaku lagi. Kali ini aku bersumpah dalam hati bahwa untuk urusan kirim-mengirim uang aku harus lebih berhati-hati agar uang hasil keringatku tidak digunakan untuk keperluan yang
sia-sia saja.

'Nasi sudah menjadi bubur!' biarkanlah suamiku kawin lagi asalkan anak-anakku dan aku yang di Singapura ini happy. Kepulanganku yang kurang dua bulan lagi itu adalah
sebuah hadiah untuk ketiga anakku saja.


Salam : Muzali
P.S : Mbak Lia dan Bu Hany maaf....! ini cerpen
coretan saya.
Terimakasih

6 comments:

Anonymous said...

Mudah-mudahan ini bukan kisah nyata?

Anonymous said...

whadoh ... ini bukan cerita beneran kan?

Anonymous said...

Teman-teman pembaca yang terhormat, cerpen-cerpen yang telah saya tulis merupakan cerita nyata yang saya ambil dari kisah sebenar yang dialami oleh beberapa teman PLRT disini, bahkan ada kisah sebenar yang lebih menyedihkan. InsyaAllah jika ada kesempatan saya akan mengangkat kisah sebenar itu menjadi cerpen.

Wasalam

Anonymous said...

hmmm memang banyak sekali kisah kisah yang sangat menyedihkan yang dialami rekan2 PRT ini, seperti yang saya lihat di Kuwait. 2 bulan lalu saat saya pulang untuk lebaran di Indonesia, saya 1 pesawat dgn mereka, saat transit mereka bercerita ttg kehidupan mereka, cerita yg beragam, dan banyak kesedihan.Semoga mereka di beri kekuatan untuk melalui semua nya.

Anonymous said...

Salam,
Cerpen yang menyentuh dan memberi semangat. Salut buatmereka, pejuang sebenarnya.
Tetap menulis ya.
ardi-SK

-ian- said...

mengharukan